Tak Akan Pernah
Dua tahun telah berlalu, dan duka masih membekas di
hatiku. Aku selalu merindukan sosok
beliau yang hangat dan menyayangiku dengan setulus hatinya. Walaupun terkadang
beliau tidak disampingku, sibuk dengan pekerjaannnya..aku selalu bisa memahami hal
itu. Beliau sosok pria yang tak akan pernah bisa tergantikan… “tak akan pernah”
31 Desember 2011,
Sore itu sanak saudaraku datang ke rumah untuk mempersiapkan acara tahun baru
yang selalu di rayakan tiap pergantian tahun. “assalamualaikum wr.wb” ucap
seseorang dari kejauhan. “wa’alaikumsalam wr.wb, wah malam ini rumah bakalan
rame nih” ucapku “iya dong mbak, mbak nanti kita bakar jagung ya, terus kita
beli kembang api juga, adek mau main kembang api nih udah gak sabar lagi hehee…”
keceriaan terpancar di wajah adik sepupuku, lucu… itu hal pertama yang
terlintas di benakku ketika melihat tingkah adik kecilku yang satu ini. “iya
kinanti, nanti kita main kembang api. Mbak juga udah beli kembang apinya kok”
ucapku sembari mencubit ke dua pipinya. Senja berganti malam, kami duduk di
teras rumah,memandangi langit malam yang penuh bintang dan di suguhi canda tawa
yang menambah indah suasana malam itu..persis seperti apa yang aku harapkan. “mbak,
kembang apinya mana?” “oh iya, sebentar ya mbak ambil dulu” dengan sigap aku
beranjak dari posisi dudukku dan pergi mengambil kembang api yang ku letakkan
di kamar. “ini dek, hati-hati ya mainnya” “iya mbak….yok kak farid,mbak
muthiah, kak rafly ,firly, alif ,fahri kita main kembang api” mereka menyalakan
kembang api,bermain dengan di selingi canda tawa “eh itu awas,jangan
deket-deket nanti ke bakar” ucap nenekku. “yah, punyaku udah mati duluan..”
“yeee punya kakak masih nyala” “itu dek ambil lagi aja” ucapku sembari
mengambil kembang api dan membantunya menyalakan kembang api. Suasana malam itu
sama seperti malam-malam tahun baru sebelumnya, tapi…. terasa ada yang kurang.
Papa? Iya papa. Malam itu papa tidak pulang ke rumah karena jam kerjanya yang
lembur, mengatur keluar masuknya pesawat yang pulang pergi untuk mengantar
penumpangnya. “Papa,papa.. kondisi papa kurang fit tapi masih aja mau masuk
kerja..”
Teng…. tepat jam 12 malam. Dwarrrr dwarrrr… bunyi kembang api yang menghiasi
langit. “wohooooo,bagus bagus” “lagi..lagiii” begitulah reaksi adik-adikku melihat
kembang api,lucu bukan? Haha. Keesokan harinya aku pergi ke rumah tanteku untuk
menginap beberapa hari, ya itung-itung liburanlah hehe.
4 januari 2012,
Terhitung empat hari aku menginap di rumah bibi… siang harinya, aku yang tengah
bermain dengan laptopku, dan tanteku yang tengah tidur bersama dengan anaknya
di kagetkan oleh kedatangan seseorang yang belum ku kenal sebelumnya.
“permisi?” “iya,cari siapa dek?” “ini loh bu, mau jemput vera terus di anter ke
rumah sakit, “ini kak fathur..” aku memperhatikannya dengan saksama “kakak?”
ujarku dalam hati. “ver, siap-siap gih itu kakak dateng buat jemput kamu ke
rumah sakit” Dalam benakku terus bertanya-tanya “siapa yang sakit?” “apakah……”
aku pun tiba di rumah, melihat mama dengan mata yang bercucuran air mata.
“kenapa ma? Ada apa?” mama hanya diam, merangkulku dan mengajakku masuk ke
mobil.” Perasaanku mulai tak karuan, melihat mama menangis aku pun ikut
menangis, entah apa yang terjadi aku tak tahu.
Deg, air mataku bercucuran tak sanggup melihat apa yang ada di depanku
sekarang, “papa” ucapku lirih. Mama menceritakan semuanya.. papa terkena
stroke, memang sudah lama papa mengidap penyakit itu.
Aku mendekati papa, dengan menahan air mata yang ingin keluar membasahi pipiku,
aku berbisik di telinga papa dan berkata bahwa aku akan menjadi anak yang
sukses dan membanggakan orangtua. Tidak hanya itu yang terucap dari bibirku,
berkali-kali aku meminta maaf kepada papa mungkin aku pernah berkata dan
bersikap kasar kepada beliau. Ku kecup kening papa, ku pegang tangan papa, ku
kirimkan doa-doa di telinga papa dan aku terus berharap agar papa bisa sembuh. “tenang
dek, papa pasti sembuh”ucap kakak
berusaha menenangkanku “sekarang kita pulang, biarkan papa istirahat”
aku dan mama pun pulang ke rumah, ada kakak yang menunggu papa disana.
5 januari 2012,
Menunggu…ya menunggu, itulah hal yang aku lakukan saat ini, bolak-balik
mengecek ponselku berharap ada pesan masuk yang membawa kabar gembira mengenai
papa. Aku meninggalkan ponselku dan beranjak keluar untuk membantu mama. Tak
lama kemudian aku masuk untuk mengecek ponselku, beberapa pesan masuk tapi
bukan kabar gembira yang ku dapat,keadaan papa masih sama seperti sebelumnya.
“ma, keadaan papa masih seperti sebelumnya” aku memberitahu mama, ternyata mama
telah mengetahui hal itu “iya ver, keadaan papa masih seperti sebelumnya” “vera
berdoa aja buat papa semoga papa cepet sembuh, ya nak..” dan lagi sebuah pesan
masuk ke ponselku..pesan tersebut membawa kabar yang sangat menyedihkan hingga
membuatku teriak dan menangis histeris “vera..inalillahi wainaiaihi rojiun papa
meninggal, papa akan dikuburkan sore ini” sungguh tak bisa dipercaya,
orang yang sangat aku sayangi telah meninggalkanku begitu cepat. Mungkin bukan
hanya aku yang merasa kehilangan, tetapi semuanya juga ikut merasa kehilangan.
Aku hanya bisa berdoa agar papa tenang disana, dan ditempatkan di tempat yang
paling mulia di sisi Allah SWT….amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar