Laman

Sabtu, 20 September 2014

Tak Akan Pernah



Dua tahun telah berlalu, dan duka masih membekas di hatiku.  Aku selalu merindukan sosok beliau yang hangat dan menyayangiku dengan setulus hatinya. Walaupun terkadang beliau tidak disampingku, sibuk dengan pekerjaannnya..aku selalu bisa memahami hal itu. Beliau sosok pria yang tak akan pernah bisa tergantikan… “tak akan pernah”



31 Desember 2011,
Sore itu sanak saudaraku datang ke rumah untuk mempersiapkan acara tahun baru yang selalu di rayakan tiap pergantian tahun. “assalamualaikum wr.wb” ucap seseorang dari kejauhan. “wa’alaikumsalam wr.wb, wah malam ini rumah bakalan rame nih” ucapku “iya dong mbak, mbak nanti kita bakar jagung ya, terus kita beli kembang api juga, adek mau main kembang api nih udah gak sabar lagi hehee…” keceriaan terpancar di wajah adik sepupuku, lucu… itu hal pertama yang terlintas di benakku ketika melihat tingkah adik kecilku yang satu ini. “iya kinanti, nanti kita main kembang api. Mbak juga udah beli kembang apinya kok” ucapku sembari mencubit ke dua pipinya. Senja berganti malam, kami duduk di teras rumah,memandangi langit malam yang penuh bintang dan di suguhi canda tawa yang menambah indah suasana malam itu..persis seperti apa yang aku harapkan. “mbak, kembang apinya mana?” “oh iya, sebentar ya mbak ambil dulu” dengan sigap aku beranjak dari posisi dudukku dan pergi mengambil kembang api yang ku letakkan di kamar. “ini dek, hati-hati ya mainnya” “iya mbak….yok kak farid,mbak muthiah, kak rafly ,firly, alif ,fahri kita main kembang api” mereka menyalakan kembang api,bermain dengan di selingi canda tawa “eh itu awas,jangan deket-deket nanti ke bakar” ucap nenekku. “yah, punyaku udah mati duluan..” “yeee punya kakak masih nyala” “itu dek ambil lagi aja” ucapku sembari mengambil kembang api dan membantunya menyalakan kembang api. Suasana malam itu sama seperti malam-malam tahun baru sebelumnya, tapi…. terasa ada yang kurang. Papa? Iya papa. Malam itu papa tidak pulang ke rumah karena jam kerjanya yang lembur, mengatur keluar masuknya pesawat yang pulang pergi untuk mengantar penumpangnya. “Papa,papa.. kondisi papa kurang fit tapi masih aja mau masuk kerja..”
Teng…. tepat jam 12 malam. Dwarrrr dwarrrr… bunyi kembang api yang menghiasi langit. “wohooooo,bagus bagus” “lagi..lagiii” begitulah reaksi adik-adikku melihat kembang api,lucu bukan? Haha. Keesokan harinya aku pergi ke rumah tanteku untuk menginap beberapa hari, ya itung-itung liburanlah hehe.

4 januari 2012,
Terhitung empat hari aku menginap di rumah bibi… siang harinya, aku yang tengah bermain dengan laptopku, dan tanteku yang tengah tidur bersama dengan anaknya di kagetkan oleh kedatangan seseorang yang belum ku kenal sebelumnya. “permisi?” “iya,cari siapa dek?” “ini loh bu, mau jemput vera terus di anter ke rumah sakit, “ini kak fathur..” aku memperhatikannya dengan saksama “kakak?” ujarku dalam hati. “ver, siap-siap gih itu kakak dateng buat jemput kamu ke rumah sakit” Dalam benakku terus bertanya-tanya “siapa yang sakit?” “apakah……” aku pun tiba di rumah, melihat mama dengan mata yang bercucuran air mata. “kenapa ma? Ada apa?” mama hanya diam, merangkulku dan mengajakku masuk ke mobil.” Perasaanku mulai tak karuan, melihat mama menangis aku pun ikut menangis, entah apa yang terjadi aku tak tahu.
Deg, air mataku bercucuran tak sanggup melihat apa yang ada di depanku sekarang, “papa” ucapku lirih. Mama menceritakan semuanya.. papa terkena stroke, memang sudah lama papa mengidap penyakit itu.
Aku mendekati papa, dengan menahan air mata yang ingin keluar membasahi pipiku, aku berbisik di telinga papa dan berkata bahwa aku akan menjadi anak yang sukses dan membanggakan orangtua. Tidak hanya itu yang terucap dari bibirku, berkali-kali aku meminta maaf kepada papa mungkin aku pernah berkata dan bersikap kasar kepada beliau. Ku kecup kening papa, ku pegang tangan papa, ku kirimkan doa-doa di telinga papa dan aku terus berharap agar papa bisa sembuh. “tenang dek, papa pasti sembuh”ucap kakak  berusaha menenangkanku “sekarang kita pulang, biarkan papa istirahat” aku dan mama pun pulang ke rumah, ada kakak yang menunggu papa disana.

5 januari 2012,
Menunggu…ya menunggu, itulah hal yang aku lakukan saat ini, bolak-balik mengecek ponselku berharap ada pesan masuk yang membawa kabar gembira mengenai papa. Aku meninggalkan ponselku dan beranjak keluar untuk membantu mama. Tak lama kemudian aku masuk untuk mengecek ponselku, beberapa pesan masuk tapi bukan kabar gembira yang ku dapat,keadaan papa masih sama seperti sebelumnya. “ma, keadaan papa masih seperti sebelumnya” aku memberitahu mama, ternyata mama telah mengetahui hal itu “iya ver, keadaan papa masih seperti sebelumnya” “vera berdoa aja buat papa semoga papa cepet sembuh, ya nak..” dan lagi sebuah pesan masuk ke ponselku..pesan tersebut membawa kabar yang sangat menyedihkan hingga membuatku teriak dan menangis histeris “vera..inalillahi wainaiaihi rojiun papa meninggal, papa akan dikuburkan sore ini” sungguh tak bisa dipercaya, orang yang sangat aku sayangi telah meninggalkanku begitu cepat. Mungkin bukan hanya aku yang merasa kehilangan, tetapi semuanya juga ikut merasa kehilangan. Aku hanya bisa berdoa agar papa tenang disana, dan ditempatkan di tempat yang paling mulia di sisi Allah SWT….amin.